Abang Tukang Taksi
Oleh:
Muhammad Akbar Priandanu
X
IPA 6
Sore
itu cuaca tidak bersahabat,sehingga aku memutuskan untuk bergegas pulang
kerumah. Sungguh penat yang kurasa setiba ku di rumah, tanpa sadar aku pun
terlelap pulas,hingga akhirnya aku tersentak dari tidur ku ketika suara petir
menggema di telinga ku. Ku pandangi semua sudut bagian kamar ku dan tanganku
mencoba untuk meraih jam tangan yg ku letakkan di samping tempat tidur ku,
betapa kaget nya aku melihat bahwa jam sudah menunjukkan pukul 17:00 WIB.
Segera ku bergegas menuju kamar mandi dan bersiap-siap untuk berangkat les, ya,
sore itu adalah jadwal les bahasa inggris ku. Ku lihat keluar jendela,ternyata
hujan deras telah mengguyur kota ku ini. Karena ibu tak mengizinkan ku
mengendarai motor, maka aku memutuskan untuk menumpangi taksi.
Ku
genggam ponsel dan ku telepon taksi yang akan ku tumpangi, hingga sebuah taksi
menunggu di depan rumah ku. Ketika di dalam taksi, supir taksi itu bertanya
kepada ku “ mau di antar kemana dik ? “ kemudian aku menjawab”ke jalan achmad
yani bang “ lalu supir itu berkata “ ok
“. Ketika berada di dalam taksi, seorang supir taksi itu mencoba mendekat kan
dirinya dengan cara bertanya-tanya seputar kegiatan ku di tempat les,aku hanya
menjawab dengan jawaban yang singkat,jelas, dan padat. Setibanya di tempat les
ku, supir taksi itu mengatakan “ nanti pulang nya mau di jemput lagi dik ?”
kemudian aku menjawab “ boleh bang, jemput jam 19:25 WIB ya bang ?” karena jam
19:25 WIB kegiatan ku di tempat itu sudah selesai, dan supir taksi itu menjawab
“ ok dik “.
Hingga
bel tanda telah selesai pun berbunyi, ku tunggu supir taksi itu menjemput ku
dan tak lama kemudian sebuah taksi dengan nomor 011 itu pun tiba untuk
menjemputku. Ketika berada di dalam taksi, aku mencoba untuk akrab dengan supir
taksi itu dan melontarkan beberapa pertanyaan seputar pekerjaan,kehidupan,serta
kepribadian seorang supir taksi itu. Hingga ia menjawab dan aku merasa sudah
kenal lama dengan nya, ternyata ia sudah memiliki keluarga, dan salah satu
pertanyaan yang aku tanya kan pada nya adalah “ berapa upah abang dalam sehari bekerja
sebagai supir taksi ?” dan ia pun menjawab “ kalau upah perhari ya
paling-paling Cuma 10.000 rupiah dik”, sungguh kaget aku mendengar jawaban
seorang supir taksi yang baik dan ramah ini.
Kemudian
terlintas di benak ku “apakah cukup dengan 10.000 ia menghidupi keluarga nya ?”
di situ aku merasa sedih dan berpikir, uang jajan ku saja lebih dari 10.000
sedangkan supir taksi ini menafkah kan keluarga nya dengan upah profesinya
sebagai supir taksi 10.000 perhari,
apakah cukup ? menangis rasanya batin ku ini, tak terbayang oleh ku jika aku
yang berada di posisi nya. Akan kah aku melanjutkan perjuangan atau malah
menyerah dengan keadaan, tak terasa ternyata sudah tiba di depan rumahku, sebelum
aku turun dari taksi itu,aku berkata “ besok kalau saya pergi pakai taksi
lagi,saya telpon abang lagi ya ?” dan dengan semangat ia menjawab “ok,sip dik”.
Hingga saat ini, ia masih menjadi supir taksi langganan ku.
Beberapa
hari kemudian, ku telpon supir taksi langganan ku itu dan meminta untuk di
antarkan ke sebuah mall yang lumayan jauh dari lokasi rumah ku,aku sedih karena
beberapa hari yang lalu aku mendapati kabar yang tak baik tentang kondisi
saudara ku, oleh sebab itu lah aku ingin menghibur diri dan berjumpa dengan
teman ku di sana. Selama di perjalanan sepertinya supir taksi itu mengetahui
perasaan ku sehingga ia memutarkan lagu yang membuat kebanyakan orang merasa semangat
setelah mendengarkan lagu tersebut,lalu ia bertanya”kenapa dik ? kok murung ?
lagi sedih ya ?” karena aku merasa malu dan tak ingin supir taksi itu
mengetahui perasaan ku, aku mencoba membuat diri ku seperti aku yang biasanya
dan menjawab pertanyaan nya “ga kenapa-kenapa kok bang Cuma lagi bosan saja”.
Aku
mencoba menghubungi teman-teman ku yang nanti akan ku temui di sana,aku
mengeluarkan ponsel genggam milik ku dan beberapa gadget yang ku gunakan
sebagai penghibur diri selama perjalanan. setibanya di mall,seorang supir taksi
itu bertanya”nanti mau di jemput dik?”kemudian aku menjawab”ok bang,nanti saya
hubungi lagi kalau saya sudah selesai” ia pun merespon”ok,sip dik”. Ternyata
teman-teman ku sudah menunggu dan memesankan makanan dan minuman favorit yang
biasanya aku pesan ketika berada di tempat itu,ketika hendak makan, teman-teman
ku mengajak untuk berfoto bersama dan ketika itu lah aku merasa ada yg kurang
dengan barang bawaan ku,ternyata ipad ku yang membuat ku gelisah. Tak lama
sesudah itu,supir taksi langganan ku menelpon bahwasannya ipad ku tertinggal di
taksi nya,dan aku berkata”terimakasih bang”.
Sungguh
aku sangat berterima kasih,karena di zaman serba uang ini masih ada orang yang
jujur dan baik seperti abang supir taksi ini. Betapa bangga nya aku dengan
seorang supir taksi ini, kehidupanya sederhana tetapi hatinya kaya akan
kebaikan yang membuat orang-orang di sekitarnya merasa nyaman berada di
dekatnya. Itulah yang sampai saat ini aku ingat dari nya,ingin sekali rasanya
aku membantu kehidupannya tapi apalah daya, aku hanyalah anak yang kehidupan ku
masih bergantung dengan orang tua ku sepenuhnya. Aku tetap bersih keras untuk
membantu kehidupan supir taksi itu, dengan melebihkan jumlah pembayaran yang
uangnya ku berikan padanya. Senang rasanya hidup ini apabila kita saling
berbagi kesenangan dengan orang lain.
Semua
orang memiliki kebahagiaan nya masing-masing, suatu ketika saat aku bertanya
padanya “menurut abang, apa kebahagian yang paling besar dalam kehidupan abang
?” dengan tenangnya ia menjawab” keluarga, bisa berkumpul bersama keluarga itu
adalah kebahagiaan terbesar di dalam hidup abang dik”, subhanallah, betapa
kagumnya aku setelah ia mengatakan hal tersebut. Aku berdo’a kepada allah” ya
allah lindungilah keluarga ku dan semua orang yang sadar akan kebahagiaan dalam
hidupnya ya allah”.
Di
perjalanan pulang,supir taksi ini menawarkan permen pada ku,”mau permen
dik?”sambil ia mengulurkan tangan kanannya untuk memberiku permen dan aku
menjawab” terima kasih bang” aku
menghela nafas setelah melihat sebuah foto terjatuh dari kursi yang di duduki
oleh supir ini, aku merasa penasaran dan kemudian aku memberanikan diri untuk
mengambil foto yang terjatuh itu. Sungguh aku sangat terkejut setelah melihat
foto itu, di foto itu ada sepasang suami dan istri yang ku yakini bahwa lelaki
itu adalah abang supir taksi ini, dan seorang anak yang memiliki cacat di salah
satu bagian anggota tubuhnya, aku sangat yakin bahwa ini adalah foto keluarga
supir taksi ini, amat sangat sedih aku melihatnya, seseorang supir taksi
sederhana yang baik ini ternyata mempunyai anak yang memiliki kekurangan fisik.
Sungguh yakin aku bahwa supir taksi ini memiliki hati malaikat yang jarang di
miliki oleh siapa pun manusia yang terlahir ke muka bumi ini. Aku berharap ia
tetap sabar dengan keadaannya saat ini. Bangga sungguh bangga aku pada supir
taksi ini, terimakasih untuk mu, karena telah mengajarkan ku untuk memiliki
sifat sabar dan jujur dan engkau telah menginspirasi kehidupan ku yang dahulu
lalai kini tak lagi terbengkalai. Lewat kisah ini ku ucapkan terima kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar