Minggu, 18 Oktober 2015

CERPEN

Abang Tukang Taksi
Oleh: Muhammad Akbar Priandanu
X IPA 6
Sore itu cuaca tidak bersahabat,sehingga aku memutuskan untuk bergegas pulang kerumah. Sungguh penat yang kurasa setiba ku di rumah, tanpa sadar aku pun terlelap pulas,hingga akhirnya aku tersentak dari tidur ku ketika suara petir menggema di telinga ku. Ku pandangi semua sudut bagian kamar ku dan tanganku mencoba untuk meraih jam tangan yg ku letakkan di samping tempat tidur ku, betapa kaget nya aku melihat bahwa jam sudah menunjukkan pukul 17:00 WIB. Segera ku bergegas menuju kamar mandi dan bersiap-siap untuk berangkat les, ya, sore itu adalah jadwal les bahasa inggris ku. Ku lihat keluar jendela,ternyata hujan deras telah mengguyur kota ku ini. Karena ibu tak mengizinkan ku mengendarai motor, maka aku memutuskan untuk menumpangi taksi.
Ku genggam ponsel dan ku telepon taksi yang akan ku tumpangi, hingga sebuah taksi menunggu di depan rumah ku. Ketika di dalam taksi, supir taksi itu bertanya kepada ku “ mau di antar kemana dik ? “ kemudian aku menjawab”ke jalan achmad yani  bang “ lalu supir itu berkata “ ok “. Ketika berada di dalam taksi, seorang supir taksi itu mencoba mendekat kan dirinya dengan cara bertanya-tanya seputar kegiatan ku di tempat les,aku hanya menjawab dengan jawaban yang singkat,jelas, dan padat. Setibanya di tempat les ku, supir taksi itu mengatakan “ nanti pulang nya mau di jemput lagi dik ?” kemudian aku menjawab “ boleh bang, jemput jam 19:25 WIB ya bang ?” karena jam 19:25 WIB kegiatan ku di tempat itu sudah selesai, dan supir taksi itu menjawab “ ok dik “.
Hingga bel tanda telah selesai pun berbunyi, ku tunggu supir taksi itu menjemput ku dan tak lama kemudian sebuah taksi dengan nomor 011 itu pun tiba untuk menjemputku. Ketika berada di dalam taksi, aku mencoba untuk akrab dengan supir taksi itu dan melontarkan beberapa pertanyaan seputar pekerjaan,kehidupan,serta kepribadian seorang supir taksi itu. Hingga ia menjawab dan aku merasa sudah kenal lama dengan nya, ternyata ia sudah memiliki keluarga, dan salah satu pertanyaan yang aku tanya kan pada nya adalah “ berapa upah abang dalam sehari bekerja sebagai supir taksi ?” dan ia pun menjawab “ kalau upah perhari ya paling-paling Cuma 10.000 rupiah dik”, sungguh kaget aku mendengar jawaban seorang supir taksi yang baik dan ramah ini.
Kemudian terlintas di benak ku “apakah cukup dengan 10.000 ia menghidupi keluarga nya ?” di situ aku merasa sedih dan berpikir, uang jajan ku saja lebih dari 10.000 sedangkan supir taksi ini menafkah kan keluarga nya dengan upah profesinya sebagai supir taksi  10.000 perhari, apakah cukup ? menangis rasanya batin ku ini, tak terbayang oleh ku jika aku yang berada di posisi nya. Akan kah aku melanjutkan perjuangan atau malah menyerah dengan keadaan, tak terasa ternyata sudah tiba di depan rumahku, sebelum aku turun dari taksi itu,aku berkata “ besok kalau saya pergi pakai taksi lagi,saya telpon abang lagi ya ?” dan dengan semangat ia menjawab “ok,sip dik”. Hingga saat ini, ia masih menjadi supir taksi langganan ku.
Beberapa hari kemudian, ku telpon supir taksi langganan ku itu dan meminta untuk di antarkan ke sebuah mall yang lumayan jauh dari lokasi rumah ku,aku sedih karena beberapa hari yang lalu aku mendapati kabar yang tak baik tentang kondisi saudara ku, oleh sebab itu lah aku ingin menghibur diri dan berjumpa dengan teman ku di sana. Selama di perjalanan sepertinya supir taksi itu mengetahui perasaan ku sehingga ia memutarkan lagu yang membuat kebanyakan orang merasa semangat setelah mendengarkan lagu tersebut,lalu ia bertanya”kenapa dik ? kok murung ? lagi sedih ya ?” karena aku merasa malu dan tak ingin supir taksi itu mengetahui perasaan ku, aku mencoba membuat diri ku seperti aku yang biasanya dan menjawab pertanyaan nya “ga kenapa-kenapa kok bang Cuma lagi bosan saja”.
Aku mencoba menghubungi teman-teman ku yang nanti akan ku temui di sana,aku mengeluarkan ponsel genggam milik ku dan beberapa gadget yang ku gunakan sebagai penghibur diri selama perjalanan. setibanya di mall,seorang supir taksi itu bertanya”nanti mau di jemput dik?”kemudian aku menjawab”ok bang,nanti saya hubungi lagi kalau saya sudah selesai” ia pun merespon”ok,sip dik”. Ternyata teman-teman ku sudah menunggu dan memesankan makanan dan minuman favorit yang biasanya aku pesan ketika berada di tempat itu,ketika hendak makan, teman-teman ku mengajak untuk berfoto bersama dan ketika itu lah aku merasa ada yg kurang dengan barang bawaan ku,ternyata ipad ku yang membuat ku gelisah. Tak lama sesudah itu,supir taksi langganan ku menelpon bahwasannya ipad ku tertinggal di taksi nya,dan aku berkata”terimakasih bang”.
Sungguh aku sangat berterima kasih,karena di zaman serba uang ini masih ada orang yang jujur dan baik seperti abang supir taksi ini. Betapa bangga nya aku dengan seorang supir taksi ini, kehidupanya sederhana tetapi hatinya kaya akan kebaikan yang membuat orang-orang di sekitarnya merasa nyaman berada di dekatnya. Itulah yang sampai saat ini aku ingat dari nya,ingin sekali rasanya aku membantu kehidupannya tapi apalah daya, aku hanyalah anak yang kehidupan ku masih bergantung dengan orang tua ku sepenuhnya. Aku tetap bersih keras untuk membantu kehidupan supir taksi itu, dengan melebihkan jumlah pembayaran yang uangnya ku berikan padanya. Senang rasanya hidup ini apabila kita saling berbagi kesenangan dengan orang lain.
Semua orang memiliki kebahagiaan nya masing-masing, suatu ketika saat aku bertanya padanya “menurut abang, apa kebahagian yang paling besar dalam kehidupan abang ?” dengan tenangnya ia menjawab” keluarga, bisa berkumpul bersama keluarga itu adalah kebahagiaan terbesar di dalam hidup abang dik”, subhanallah, betapa kagumnya aku setelah ia mengatakan hal tersebut. Aku berdo’a kepada allah” ya allah lindungilah keluarga ku dan semua orang yang sadar akan kebahagiaan dalam hidupnya ya allah”.

Di perjalanan pulang,supir taksi ini menawarkan permen pada ku,”mau permen dik?”sambil ia mengulurkan tangan kanannya untuk memberiku permen dan aku menjawab” terima kasih bang”  aku menghela nafas setelah melihat sebuah foto terjatuh dari kursi yang di duduki oleh supir ini, aku merasa penasaran dan kemudian aku memberanikan diri untuk mengambil foto yang terjatuh itu. Sungguh aku sangat terkejut setelah melihat foto itu, di foto itu ada sepasang suami dan istri yang ku yakini bahwa lelaki itu adalah abang supir taksi ini, dan seorang anak yang memiliki cacat di salah satu bagian anggota tubuhnya, aku sangat yakin bahwa ini adalah foto keluarga supir taksi ini, amat sangat sedih aku melihatnya, seseorang supir taksi sederhana yang baik ini ternyata mempunyai anak yang memiliki kekurangan fisik. Sungguh yakin aku bahwa supir taksi ini memiliki hati malaikat yang jarang di miliki oleh siapa pun manusia yang terlahir ke muka bumi ini. Aku berharap ia tetap sabar dengan keadaannya saat ini. Bangga sungguh bangga aku pada supir taksi ini, terimakasih untuk mu, karena telah mengajarkan ku untuk memiliki sifat sabar dan jujur dan engkau telah menginspirasi kehidupan ku yang dahulu lalai kini tak lagi terbengkalai. Lewat kisah ini ku ucapkan terima kasih. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar